20210624

Konflik Palestina vs Israel

 


Cuplikan Pengajian TWU PH AA/3 Jaksel 21 juli 2006

 Konflik Palestina vs Israel

Akar dari konflik Israel-Palestina yang sesungguhnya merupakan persoalan internal kaum Semit yang memiliki tradisi perang dan kekerasan sebagai bahasa-peradaban. Dalam bahasa Samuel P Huntington, ini disebut deklinisme dimana bangsa-bangsa terjebak dalam cengkeraman sejarahnya secara-deterministik 

Trauma-sejarah.
Dalam sejarah tidak ada solusi final. Selama makhluk manusia ada, tidak ada jalan keluar dari trauma-trauma sejarah. Huntington mengatakan,’Sumber utama konflik di dunia baru bukanlah ideology atau ekonomi, melainkan budaya yang menjadi factor pemecah belah umat manusia dan sumber konflik yang dominan (1993).

Dalil-dalil ini menjelaskan betapa dalamnya akar konflik Israel-Palestina/Arab yang bahkan tak terpecahkan selama 3000 th. The Global Illuminati-Freemasonry, organisasi paganisme modern yang diantara pilarnya adalah Judaisme, bahkan menjadikan trauma sejarah itu sebagai landasan taktis-nya untuk mencapai tujuan ideologis “Novus Ordo Seclorum” seperti tercermin dalam surat tokoh Freemasonry Amerika Serikat Albert Pike kepada Guiseppe Mazzini tgl. 15 Agustus 1871 yang menjelaskan rencananya untuk mewujudkan Perang Dunia Ketiga pada awal abad 21, yang akan diawali dari perang Israel-Palestina yang akan didorong diperluas kearah Parang Israel-Arab, dan akhirnya Perang Barat melawan Islam yang berkembang menjadi Perang Dunia.

Pemimpin Kadima-Israel Ehud Olmert dan pemimpin Hamas-Palestina Ismail Haniya adalah pelaku-pelaku konflik yang efektif. Apakah mereka agen-agen Freenasonry ? Kini peperangan tak hanya di bumi Palestina, tetapi meluas ke Lebanan dengan jumlah korban yang semakin provokatif. Hingga Minggu 16/7 dipihak Lebanon 148 orang meninggal akibat gempuran Israel, sementara dipihak Israel 25 orang tewas (15 orang sipil) akibat serangan kelompok Hezbollah.

Walaupun hipotesa Huntington tentang ‘perang peradaban’ (clash of civilization) dibantah oleh Fouad Ajami dari John Hopkin University (vide, Peng.99-100), tetapi dalam kasus Israel-Arab pernyataan Huntington yang menegaskan, bahwa ‘garis pemisah antara peradaban akan menjelma menjadi garis pertempuran’, terbukti benar. Namun kebenaran ini memang sudah terhampar nyata di dunia selama 3000 th lebih. Tidak ada yang baru dalam hal ini.

MJ. Akbar seorang penulis Muslim India mengungkapkan, bahwa interaksi antara peradaban Barat dan Islam dikedua sisi dipandang sebagai benturan peradaban. “Konfrontasi Barat berikutnya” dapat dipastikan datang dari dunia Muslim. Akbar mengungkapkan adanya perjuangan dikalangan bangsa-bangsa Islam mulai dari Maghribi hingga Pakistan yang menginginkan tatanan dunia baru berdasarkan idealisme Islam. Ini mendasari konflik peradaban yang bersifat ideologis-fundamentalis yang lebih kuat dan lebih berakar daripada ideologi politik. Pola seperti itu pula yang menjadi frame of reference Huntington.

Kalau mengikuti Hipotesa Huntington dan rencana Pike, pecahnya konflik bersenjata Israel-Palestina/Arab yang terbaru ini akan segera membelah dunia dalam garis batas peradaban Barat yang pro Israel dan Islam yang pro Palestina. Tetapi kalau kita menimba pikiran Fouad Ajami, belum tentu demikian. Karena sesungguhnya semua nilai peradaban telah bergeser oleh modernisasi Barat. Bagi Huntington dan Saddam Husein perang Teluk adalah perang peradaban Barat melawan Islam. Tetapi sesungguhnya tidak demikian. Frame-work yang sebenarnya dari perang itu dipandang oleh negara-negara Arab dari perspektif pragmatik perimbangan kekuatan bukan dari sudut fundamentalisme agama. Faktanya kekuatan yang berhasil dihimpun Amerika Serikat meliputi Saudi Arabia, Turki, Mesir, Suriah, Perancis, Inggris dan para petualang lainnya. Pragmatisme seperti itu juga akan terjadi dalam sessi perang Israel-Palestina sekarang ini.

Sebagai Negara Kebangsaan, RI harus tetap mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina, tetapi kita tahu pasti bahwa itu bukan perang agama.
Sekian, terima kasih, kita lanjutkan pengajian berikutnya.


Birrahmatillahi Wabi’aunihi fi Sabilih,
Wassalamu’alaikum War. Wab.
Jakarta, 21 Juli 2006,

 



Pengasuh,
KH. AGUS MIFTACH
Ketua Umum Front Persatuan Nasional

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar